antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA,SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

Menyediakan Bibit Belut Dengan Kualitas

antok Farm, Jual Benih Ikan

Menyediakan Bibit nila dengan kondisi baik

Tuesday, December 16, 2014

Cara Budidaya Bibit Belut


Bibit belut atau benih belut memang salah satu faktor utama kesuksesan budidaya belut. Sehingga pembibitan belut merupakan salah satu kegiatan utama proses budidaya belut. Untuk membibitkan belut yang diperlukan adalah pengetahuan tentang pemilihan belut untuk dijadikan indukan. Ada yang unik dalam kehidupan sex belut, ada yang beranggapan bahwa antara belut bisa bertukar jenis kelamin.


Pada awal tumbuh dewasa, belut akan cenderung untuk berjenis kelamin betina yang mempunyai telur yang siap untuk dibuahi. Setelah terjadi proses alami perkawinan dan telah menetaskan telur makan induk betina tadi otomatis berubah menjadi induk jantan.

Tetapi ada juga belut yang akhirnya tidak tumbuh kelamin sehingga disebut belut banci. Ciri-ciri belut yang sudah bisa dijadikan indukan adalah :

  1. Umur belut sekitar 3-5 bulan.
  2. Agresif dan sangat lincah bergerak.
  3. Tubuh induk harus bersih dan mulus tidak ada luka.
  4. Tubuh keras.
Ciri-ciri belut jantan :
  1. Bentuk kepala tumpul.
  2. Panjang badan lebih dari 30 cm.
  3. Bentuk ekor kurang lancip.
  4. Berumur lebih dari 7 bulan
Ciri-ciri belut betina :
  1. Bentuk kepala runcing.
  2. Panjang badan kurang dari 30 cm.
  3. Bentuk ekor lancip.
  4. Berumur kurang dari 7 bulan.
Untuk melakukan perkawinan, belut mempunyai perilaku yang khas. Jadi perilaku ini harus diamati untuk kesuksesan dalam membibitkan belut. Proses dan tahap belut melakukan reproduksi adalah sebagai berikut : 
  1. Biasanya belut dewasa akan saling "menjajaki" pasangannya dengan cara melihat-lihat dan bergerombol. Belut betina akan mencari belut jantan untuk membuahi telur yang sudah siap untuk dikeluarkan dari perutnya.
  2. Pada waktu bergerombol itulah nantinya akan ditemukan masing-masing pasangan belut sesuai dengan nalurinya. Biasanya pasangannya tidak terlalu jauh dalam hal ukuran tubuh. Tubuh belut jantan akan sedikit lebih besar dibandingkan dengan tubuh belut betina.
  3. Sebelum pembuahan biasanya belut jantan akan membuat lubang/sarang untuk kawin. Setelah menemukan pasangannya, pasangan itu akan berenang menuju sarng yang sudah dipersiapkan dan perkawinan akan terjadi di tempat ini.
  4. Setelah beberapa hari dari proses perkawinan pada permukaan air akan muncul busa berwarna putih kekuningan. Belut betina akan meyimpan telur yang dikeluarkan dari perutnya pada busa tersebut. Setelah mengeluarkan telur belut betina akan pergi mencari makan dengan cara membuat lubang persembunyian dan menunggu mangsanya dari situ. Sedangkan telur yang berda pada busa itu akan ditunggui oleh induk jantan.
  5. Setelah 1-7 hari telur belut akan menetas, selama itu pula busa yang menyimpan telur itu akan bertahan. Selama proses telur sampai menetas menjadi larva, belut jantan akan selalu menjaganya.
  6. Setelah menetas menjadi benih maka benih belut ini harus mencari makan sendiri. Belut termasuk binatang kanibal sehingga sebaiknya jika memelihara belut usahakan mepunyai ukuran yang seimbang supaya kanibalisme bisa ditekan. Jika benih sudah ada sebaiknya dipisahkan dan dibuatkan kolam yang berbeda dengan belut dewasa lainnya.
Belut bisa bereproduksi lebih dari satu kali dalam satu siklusnya. Ini disesuaikan dengan tingkat kesuburan masing-masng induk betina.

Sumber: agrobisnisindonesiaku.blogspot.com

Saturday, December 13, 2014

Belut Super Bisa Meraup Omzet Puluhan Juta

Jual Benih Belut Murah

Bibit belut memang tidak mudah ditemui meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan belut. Hewan air tawar yang masuk dalam kelompok ikan berbentuk seperti ular ini digemari karena rasa dagingnya yang gurih. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia. Karena banyaknya peminat belut, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam. Makanya, belakangan banyak orang tertarik budidaya belut.


Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.
Herman Susilo, salah seorang pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan. "Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan," kata Herman.
Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2x5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi dalam setahun bisa empat kali panen.
Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen dari omzet.
Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp 40.000. "Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing," katanya.
Ia menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut. Selain budidaya belut hingga siap jual, belakangan ia juga mulai melayani penjualan bibit belut super.
Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.
Menurutnya, asupan pakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami, seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. "Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat," kata Herman.
Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara. "Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan," jelasnya.
Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antar belut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.
Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara. Yakni, menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya.  Kolamnya sendiri tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2x5 meter sudah bisa menampung 50 kilogram (kg) bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.
Setelah kolam jadi, lalu masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. "Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut," katanya.
Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 centimeter (cm). "Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk," jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, maka benih siap dimasukkan. 

Semoga Bermanfaat!


http://bisniskeuangan.kompas.com

Saturday, November 22, 2014

Keunggulan Ikan Nila

Kali ini kami akan membahas keunggulan Ikan Nila atau Ikan Munjaer. Ikan Nila merupakan jenis ikan air tawar yang dikenal sebagai Ikan Konsumsi. Ikan ini bisa tumbuh dan besar hingga mencapai bobot 1 kg. Dagingnya gurih dan kandungan proteinnya tinggi. Sebagaimana kita tahu kandungan gizi ikan air tawar cukup tinggi dan hampir sama dengan ikan air laut, sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah cukup. Tingginya kandungan protein dan vitamin membuat ikan yang mudah dibudidayakan ini sangat membantu pertumbuhan anak-anak balita. Anda barangkali sudah memperoleh penjelasan dari banyak-banyak penyuluhan tentang kualitas hidup, bahwa kandungan protein yang tinggi dapat membantu pertumbuhan otak dan tubuh kita.



Dibandingkan dengan negara-negara lain, konsumsi ikan per kapita per tahun di Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yaitu 19,14 kg. Hal ini sangat disayangkan, terutama mengingat betapa besar peranan gizi ikan bagi kesehatan. 
Untuk mengatasi masalah rendahnya konsumsi ikan laut akibat harganya yang relatif mahal, perlu upaya pengembangan budidaya ikan air tawar, terutama disseminasi (penyebaran informasi tentang mengenalkan budidaya ikan air tawar).
Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna. Mengingat besarnya peranan gizi bagi kesehatan, ikan merupakan pilihan tepat untuk diet di masa yang akan datang.
Ikan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu ikan air laut, air tawar, dan air payau atau tambak. Ikan yang hidup di air tawar dan air laut sangat banyak, pembedaannya hanya dibedakan menjadi golongan yang dapat dikonsumsi dan golongan  ikan hias.
Lingkungan hidup ikan air tawar adalah sungai, danau, kolam, sawah, atau rawa. Jenis ikan air tawar yang umum dikonsumsi adalah sidat, belut, gurame, lele, mas, nila merah, tawes, karper, nilem, tambakan, sepat siam, mujair, gabus, toman, betok, jambal, dan jelawat.Berikut kami sampaikan keunggulan Ikan Nila:
  1. Ikan ini sebagai ikan konsumsi, harganya lebih murah dibandingkan ikan lainnya.
  2. Ikan ini dapat dipelihara di pekarangan, dengan kolam tanah, kolam terpal ataupun kolam tangki.
  3. reproduksi ikan nila mudah dan pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan ikan lainnya.
  4. jenis ikan ini, bersih. Karena menyukai air hangat, mengalir dan bersih. Berbeda dengan ikan lele.
  5. waktu pemeliharaan yang pendek.
Dari keunggulan-keunggulan tersebut, ikan nila lebih cocok untuk dibudidayakan di areal pekarangan sebagai Penyedia Protein Keluarga.
Bibit atau benih Ikan Nila dapat diperoleh dari 2 (dua) cara, diantaranya dari Ikan Kecil yang bisa didapat dari Penjual Bibit. Biasanya ukuran panjang ikan kecil ini antara 2 s.d. 6 cm. Harganya beragam. Larva akan lebih murah dan bisa banyak sekali. Biasanya penyedia larva Ikan Nila menjual minimal 1 box sebanyak 50 ribu s.d. 100 ribu. Untuk mendaptkan benih ikan bisa klik di sini.


Sumber: herdinbisnis.com

Friday, November 14, 2014

PH Air Perlu Diperhatikan Ketika Musim Hujan

Imbauan untuk memperhatikan derajat keasaman ((pH)) air kolam ikan disaat musim penghujan yang ditujukan kepada petani ikan sebagai upaya untuk mengantisipasi kematian ikan.

 “Pada saat memasuki musim hujan, biasanya air akan terangkat ke permukaan dan menyebabkan perubahan kadar keasamaan kolam yang dapat membuat ikan tidak sehat, bahkan bisa mati,” kata Kepala Balai BenihIkan (BBI) Pangkalpinang, Teguh Sutoto di Pangkalpinang, Senin.

Teguh menjelaskan, karena berat air hujan lebih besar dari pada air kolam, maka air kolam dalam akan naik sehingga menyebabkan kadar ((pH)) rendah dan asam kolam tinggi.

“Pada kondisi normal, (pH) air adalah enam hingga tujuh, pada saat musim hujan biasanya (pH) turun dua hingga empat derajat,” katanya.Teguh mengatakan, nilai (pH) pada air di kolam bagian bawah rendah karena disebabkan oleh banyaknya asam karbon dari sisa metabolisme ikan.

“Kotoran dan sisa makanan ikan yang menumpuk di dasar kolam membuat (pH) rendah dan asam jadi tinggi, saat hujan, semua naik ke atas,” katanya.Oleh sebab itu, Teguh menyarankan, agar kolam ikan diberi kapur untuk menetralkan (pH).“Sebaiknya kolam dikapuri, atau dilakukan sedot amonia, intinya adalah untuk membersihkan kolam dari kotoran ikan,” katanya.

Kota Pangkalpinang telah melirik sektor perikanan budidaya untuk dikembangkan sebagai alternatif dari tingginya konsumsi ikan laut.Hal tersebut dibuktikan dengan terus didorongnya UPT balai benih untuk melakukan pembudidayaan dan pengadaan stok.

Pada 2013, UPT Balai Benih Ikan Lokal Kota Pangkalpinang memperkirakan stok benihikan sebanyak 10.000 benih.

“Hingga sekarang, baru ada 8.000 benih yang nantinya akan ditambah lagi stoknya dalam waktu dekat,” kata Teguh.Meski demikian, Teguh mengatakan, jumlah tersebut masih dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan permintaan masyarakat.Adanya BBIL yang dibangun sejak 2007 tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah kota Pangkalpinang untuk menaikkan produksi perikanan budidaya.“Masyarakat bisa mengajukan permintaan benih kemari asal disertai dengan proposal yang jelas, kalau itu dilakukan maka kami siap membantu,” katanya. 

(Sumber : Ciputra , budidaya ikan)



Saturday, November 8, 2014

Peternak Lele Yang Untung 10 Juta / Hari

Pasar ikan di Indonesia yang masih tergolong besar, membuat para pembudidaya ikan lele menjadi lebih tekun untuk mendapatkan laba yang besar. Seperti dialami Kelompok Pembudi Daya IkanLele Kersa Mulia Bakti, yang menerima permintaan harian sampai 6 ton.

Seorang pembudidaya ikan lele warga Cirebon, Jawa Barat, Suganda mengaku dengan budidaya ikan lele Ia bisa menghasilkan keuntungan yang sangat lumayan besar, bisa menghasilkan ratusan juta pertahuan. “Karena dalam satu hari hasil panen bisa mencapai 4-5 ton perhari atau dengan keuntungan bersih sekitar Rp 10 juta, bila harga satu kilogram lele sebesar Rp 12 ribu per kg,” katanya di tempat kolam budidaya Kelompok Kersa Mulia Bakti di Cirebon.

Atas keuntungan tersebut, ia bisa membayar premi asuransi sebesar Rp15 juta per bulan karena membudidayakan ikan lele. Menurut pria berusia 43 tahun ini, bisnis budi daya lele yang dijalaninya sejak 15 tahun lalu membuahkan hasil yang lebih dari lumayan sehingga mampu membayar premi sebesar itu.Sebelum budidaya lele Suganda pernah membudidayakan ikan emas, namun gagal karena kesulitan mencari pakan dan banyak yang terkena wabah sehingga sering gagal panen. Setelah gagal barulah Ia pindah ke budidaya lele.

Awalnya ia hanya sendirian dalam budidaya ikan lele, tetapi karena perkembangannya yang bagus sehingga mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Kesuksesan ini pun ia tularkan ke para pembudi daya yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Lele Kersa Mulia Bakti yang beralamatkan di Desa Kertasura Blok 3, Jalan Sunan Gunungjati, Kapetakan, Cirebon.

Saat ini jumlah anggota kelompok pembudidaya lele Kersa Mulia sebanyak 29 orang. Dari 29 anggota yang juga menuai sukses, 95% sudah mempunyai asuransi. Menurut Suganda itu wajar karena omzet harian kelompok bisa mencapai Rp39 juta. Satu peternak bisa memperoleh untung bersih Rp6 juta hingga Rp10 juta per hari.

“Dulu usaha budidaya lele belum ada yang berminat. Saya saja sendirian. Lalu lima tahun kemudian muncul yang ikut dan dari yang hanya puluhan kolam, sekarang sudah ada 400 kolam di lahan seluas 35 hektare,” ungkap Suganda.

Diceritakan, 400 kolam dalam sehari bisa panen sekitar 4-5 ton dan dibeli oleh pelanggan yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Tegal. Namun Suganda me­ngatakan sering kali pihaknya justru tidak bisa memenuhi kebutuhan pelanggan. Permintaan rata-rata dalam satu hari sebenarnya bisa mencapai 6 ton.

“Untuk bisa tingkatkan produksi, tentu harus ada tambahan kolam. Nah, masalahnya adalah ketersediaan lahan. Warga sekitar biasanya hanya kalau butuh uang banyak saja baru mau jual tanah,” kata Suganda.

Sementara jika mencari lahan di luar Kabupaten Cirebon, Suganda mengatakan ia dan para rekannya harus memastikan kondisi lingkungan.

“Maksudnya kalau misalnya budidaya di Semarang, masyarakat di sana belum tentu cocok. Selain itu juga pertimbangannya soal keamanan,” tandasnya.

 (Sumber : InfoPublik, budidaya-ikan)


Wednesday, October 22, 2014

Budidaya Ikan Lele Menjanjikan

Peluang bisnis budidaya ikan lele saat ini banyak diminati oleh masyarakat luas, alasan utamanya adalah karena merupakan salah satu bisnis yang menguntungkan. Anda yang masih bingung menentukan untuk berbisnis bisa mencoba untuk memulai bisnis budidaya ikan lele ini.

Banyaknya keunggulan budidaya ikan lele dari pada ikan air tawar lainnya, salah satunya lele dapat dipasarkan dalam waktu 3 bulan saja. Lele juga merupakan salah satu komoditas yang mendukung ketahanan pangan dan gizi nasional. "Saat ini lele juga sudah diekspor dalam bentuk fillet," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. 

Slamet juga mengatakan bahwa budidaya ikan lele baik dari segi usaha untuk budidaya maupun segi ikan lele itu memiliki banyak kelebihan. Dari segi usaha budidaya, lele dapat di budidayakan dengan mudah, modal yang sedikit juga dengan lahan yang sempit seperti pekarangan rumah.

Olahan dalam berbagai jenis masakan membuat lele menjadi sumber protein yang murah. Serta limbah yang dihasilkan dai olahan lele dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai kerupuk dan abon.

Budidaya ikan lele, saat ini dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan lain oleh nelayan pada saat musim paceklik. "Seperti yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan Kabupaten Gianyar, Bali. Nelayan melakukan usaha budidaya lele untuk menambah pendapatan selama nelayan tersebut tidak melaut," ujar Slamet. (Handoyo)


sumber : tribunnews

Wednesday, October 15, 2014

Produktivitas Indukan Ikan Gurame / Gurami Bisa Ditentukan dari Suara

jual benih ikan gurami
Satu lagi inovasi dari beberapa putra bangsa dalam mengembangkan inovasi perikanan. Sebuah inovasi baru di dunia budidaya ikan telah ditemukan, hal ini berkaitan dengan produktivitas ikan gurame dapat ditentukan lewat suara yang dihasilkan. Penemuan ini ditemukan oleh Tim mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Tim penelitian yang menemukan cara mengukur produktivitas ikan gurame berdasarkan suara ini adalah I Gede Mahendra Wijaya, Dhaniyanto Mayrendra Rasyid, dan I Made Teguh Wirayudha, dengan dibimbing oleh dosen pembimbing Dr Ir Sri Pujiyati, MSi itu dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa.
Metode yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan metode bioakustik, yang biasa digunakan untuk melihat pola dan karakter suara mamalia laut secara umum.
Dilansir dari antaranews, I Gede Mahendra menjelaskan mengaitkan bioakustik dengan produktivitas pada ikan gurame. Menurut dia, hal ini baru yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Penelitian ini didasarkan pemikiran bahwa perlunya satu metode yang mampu dikembangkan untuk mengetahui mutu indukan ikan gurame yang efektif dan efisien tanpa menyentuh ikan itu sendiri.
Sebenarnya penelitian ini cukup sederhana mereka mendengarkan suara yang dihasilkan oleh ikan dalam beberapa tahap. Kemudian suara yang sudah terekam dianalisa untuk mendapatkan karakteristiknya (frekuensi dan intensitas suara).
Dengan demikian mereka dapat membedakan Karakteristik suara dari masing-masing indukan ikan kemudian dibandingkan dengan jumlah telur yang dihasilkannya. Setelah di amati, ikan yang memiliki produktivitas tinggi memiliki rentang frekuensi dan intensitas yang lebih sempit yaitu 2.952 Hz dan rentang intensitas 19 dB sedangkan ikan yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dengan rentang frekuensi maupun intensitas yang lebih lebar yaitu 5.062 hz dan rentang intensitas 30 dB.
Saat ini Teknologi ini tengah dikembangkan, diharapkan mampu memberi solusi bagi pembudidaya ikan gurame agar dapat dengan cepat dan mudah melakukan penyortiran indukan gurame yang unggul tanpa harus menyakiti induk ikan. Dan tentunya dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan gurame. Semoga bermanfaat!

Sumber:  usahabudidaya.com


Sunday, October 12, 2014

Jenis Lele G3 Terbaru dan Unggul

Pengembangan strain baru ikan unggul yang dilakukan olah Kementrian Kelautan dan Perikanan terus menerus dilakukan. Sebagai perbaikan mutu genetis, KKP melalui Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi kembali menghasilkan lele unggul G3.

Dinamakan G3 karena merupakan lele generasi ketiga dengan pertumbuhan bobotnya bisa meningkat hingga 40,32% dibandingkan dengan jenis ikan lele sebelumnya, menurut Sharif Cicip Sutardjo (Menteri Kelautan dan Perikanan). "Berdasarkan karakterisasi dan pengujian yang dilakukan sejak tahun 2010, lele G3 mempunyai banyak keunggulan," kata Sharif, dalam siaran persnya, Kamis (3/7).

Pemeliharaannya yang relatif singkat dibandingkan benih lokal membuat jenis ikan lele ini memiliki keunggulan, dalam pemanenan membuktikan bahwa tahap pembesaran untuk mencapai ukuran konsumsi (6-9 ekor/kg) bisa dalam waktu kisaran waktu 45-50 hari dari ukuran benih tebar 5-7 cm dan 7-9 cm. Serta ukurannya yang berseragam relatif tinggi, dengan hasil panen yang siap jual pada tahap pembenihan dan pendederan dalam satu waktu berkisar 70-90% dibandingkan benih lokal yang berkisar 50-70%. "Daya tahan lele G3 terhadap penyakit relatif tinggi. Seperti serangan infeksi parasit Trichodina sp, Dactylogyrus sp dan Gyrodactylus sp serta bakteri Aeromonas hydrophila dan Flavobacterium columnare tanpa pengobatan menggunakan antibiotik masih berkisar 60-90%," jelas Sharif.

Daya tahan jenis ikan lele G3 terhadap lingkungan relatif tinggi juga memberikan nilai keunggulan tersendiri. Sanitasi pada tahap pembenihan, pendederan dan pembesaran uji multilokasi sekitar 10-20% lebih tinggi dibandingkan benih lokal. Daya tahan lele G3 terhadap stress juga relatif tinggi. "Feed Conversion Ratio (FCR) lele G3 juga relatif bagus, pada tahap pendederan berkisar 0,5-0,7 dan pada tahap pembesaran berkisar 0,9-1,0," papar Sharif.


(tribunnews)

Wednesday, October 8, 2014

Peluang Ikan Nila Menggantikan Peran Ikan Gurami

Ukuran yang besar membuat ikan nila menjadi pengganti dari ikan gurami di kalangan konsumen rumah makan maupun masyarakat setempat, kata Asep, salah satu pengelola rumah makan di Ciamis. Ikan nila untuk ukuran besar bisa menggantikan ikan gurame, baik untuk masakan digoreng maupun pepes. Peminatnya pun terus meningkat,” kata Asep Nuryana salah seorang pengelola rumah makan di Ciamis, Minggu.

Mahalnya ikan gurami dan sulitnya pasokan  serta dengan ukurannya yang tidak terlalu besar, menjadikan ikan nila besar pengganti ikan gurami. Sebaliknya, ikan nila ukuran dua sampai tiga ekor satu kilogramnya pasokan lebih banyak. Selain itu harganya cukup murah, sedangkan dagingnya cukup tebal. “Bila ada ikan nila yang ukurannya besar, buat apa cari gurami yang sulit didapat dan mahal. Mengenai cita rasa tergantung kita mengolahnya saja, dan ternyata penikmatnya banyak,” kata Asep.

Selain untuk digoreng, ikan nila ukuran besar maupun kecil juga bisa dihidangkan dengan cara dipepes seperti ikan mas. “Ikan nila diolah secara dipepes bisa menjadi nilai tambah, dan peminatnya banyak dan bisa dijual dengan harga lebih murah,” kata Asep.

Berkisar Rp 24.000,- sampai Rp 25.000,-  per kilogram sudah mendapatkan ikan nila dengan ukuran sekilogram tiga ekor, sedangkan harga gurami bisa mencapai di atas Rp 35.000,- per kilogram nya. Petani di Ciparay yang bernama Dede, mengakui adanya peningkatan permintaan ikan nila dari rumah makan, yang menyebutkan ikan nila pasokan dari Cirata saat ini banyak masuk ke rumah makan, “Permintaan ikan nila ukuran besar memang cukup bagus, harganyapun cukup tinggi dibandingkan ukuran biasa,” kata Dede menambahkan. 

(Sumber : AnalisaDaily, budidaya ikan)

Sunday, October 5, 2014

Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)

Salah satu kunci sukses usaha perikanan adalah penyediaan bibit atau benih ikan yang berkualitas. Dalam menghadapai perdagangan bebas antarnegara yang sebentar lagi akan diberlakukan, menuntut para pelaku pasar untuk meningkatkan daya saing produknya. Para penjual dan penyedia benih ikan dituntut untuk menyediakan benih ikan yang bukan hanya berkualitas, namun juga dengan harga yang murah. Persaingan produk benih ikan bukan hanya dalam tataran lokal, namun juga akan bertarung dengan pesaing dari luar negeri. Apabila pelaku pasar tidak dapat meningkatkan daya saing produknya, bukan tidak mungkin produk-produk dari luar negeri yang berkualitas tinggi dan murah akan membanjiri pasar dalam negeri, dan menjadi idola konsumen lokal.

Untuk dapat bertarung dengan produk-produk perikanan dari luar negeri, kita tentu harus memiliki kualitas produk perikanan yang baik dan juga harga produk yang murah. Nilai kualitas suatu produk didasarkan pada suatu pengakuan system jaminan mutu (standard mutu) pada masing-masing negara berdasarkan transparasi, objektivitas dan kepercayaan. Disamping itu, produk perikanan juga diharapkan aman untuk dikonsumsi dan ramah lingkungan.

Beberapa negara pengimport produk-produk perikanan, memberlakukan aturan yang ketat dan melakukan pemeriksaan sebelum produk perikanan yang masuk ke negaranya beredar bebas. Diantaranya adalah memeriksa residu logam berat dan anti biotik serta kandungan bakteri yang ada. Mereka memberlakukan standard yang ketat dengan memberi nilai ambang batas kandungan-kandungan bahan atau organisme berbahaya tersebut.Jadi jangan pernah mimpi produk benih ikan kita akan diterima pasar bebas, apabila kita masih memelihara lele di kolam yang juga berfungsi sebagai jamban, atau mengobati ikan dengan obat yang mengandung antibiotik tinggi. Mungkin saat ini kita beranggapan bahwa toh produk perikanan kita hanya dijual pada pedagang lokal, jadi tidak masalah apabila masih melakukan hal tersebut. Namun ke depan apabila pasar kita sudah dibanjiri produk perikanan dari Vietnam atau RRC yang terkenal murah dan juga siap olah (berupa fillet), kita baru akan sadar dan mulai memperhatikan masalah mutu.Agar kita tidak terlambat dalam mengantisipasi hal tersebut, ada baiknya apabila kita memulai untuk melakukan sebuah tindakan yang kongkrit dalam meningkatkan mutu produk perikanan kita.

Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) merupakan sebuah konsep bagaimana memelihara ikan, agar ikan yang kita pelihara nantinya memiliki kualitas yang baik dan meningkatkan daya saing produk, yaitu bebas kontaminasi bahan kimia maupun biologi dan aman untuk dikonsumsi. Disamping itu konsep CBIB juga menolong kita agar dalam proses pemeliharaan ikan menjadi lebih efektif, efisien, memperkecil risiko kegagalan, meningkatkan kepercayaan pelangggan, menjamin kesempatan eksport dan ramah lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

Sama halnya dengan CBIB, Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) juga tidak kalah penting, karena benih ikan yang berkualitas merupakan salah satu hal penting dan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah kegiatan budidaya ikan.Aspek dalam CBIB/CPIBDalam penerapan CBIB dan CPIB ada 4 Aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek teknis, aspek manajemen, aspek keamanan pangan dan aspek lingkungan. Aspek teknis meliputi kelayakon lokasi dan sumber air, kelayakan fasilitas, proses produksi dan penerapan biosecurity. Lokasi harus bebas banjir dan bebas cemaran, sumber air juga harus diperiksa laboratorium untuk mengetahui kandungan logam berat dan bakteri coliform. Fasilitas juga harus sesuai, diantaranya terdapat gudang pakan dan gudang peralatan yang layak, sarana pengemasan dsb. Proses produksi/pemeliharaan sebaiknya mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) dari pemeliharaan sampai pengemasan. Benih ikan harus berasal dari unit pembenihan yang bersertifikasi CPIB, dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA) Benih Ikan. Induk Ikan juga harus berasal dari lembaga yang berwenang memproduksi Induk Ikan, dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA) Induk Ikan. Penerapan biosecurity adalah sebuah upaya agar tempat budidaya/pembenihan tidak terkontaminasi zat-zat atau organisme berbahaya yang dapat mengganggu proses pemeliharaan. Diantaranya adalah dengan membuat pagar keliling, foot bath, sebelum memasuki ruang pembenihan, pencuci roda mobil/motor di pintu gerbang dsb.Aspek manajemen meliputi struktur organisasi dan manajemen serta pengolahan data untuk dokumentasi dan rekaman. Dokumentasi dalam hal ini adalah Standard Operasional Prosedur (SOP) atau Instruksi Kerja, yang merupakan pedoman dalam melaksanakan kegiatan, yang dilengkapi dengan formulir isian untuk mengumpulkan data yang diperlukan selama proses pemeliharaan. Rekaman dalam hal ini adalah merupakan bukti obyektif untuk menunjukan efektivitas penerapan CBIB/CPIB. Contoh rekaman diantaranya adalah pembelian pakan, pengolahan kolam, data kematian, pemberian pakan, pemeriksaan kualitas air dsb.

Aspek keamanan pangan merupakan sebuah ketentuan bahwa dalam memelihara ikan tidak boleh menggunakan obat-obatan/bahan kimia/bioloi yang dilarang yang bisa menyebabkan residu termasuk antibiotik. Obat-obatan yang boleh digunakan adalah obat-obatan yang sudah mendapat ijin dari kementerian kelautan dan perikanan. Demikian juga dengan pakan, pakan yang boleh digunakan adalah pakan yang sudah disertifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Apabila pembudidaya/pembenih menggunakan pakan buatan sendiri, maka pembudidaya harus bisa menjelasakan tentang bahan, formula serta proses produksi pakan tersebut dan juga memberikan sejumlah sampel pakan yang diproduksi untuk dianalisis di laboratorium.

Aspek lingkungan adalah sebuah jaminan bahwa kegiatan budidaya/pembenihan ikan kita tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengendapkan air buangan dari proses budidaya/pembenihan ikan kita dalam sebuah bak sebelum dibuang ke perairan umum.

Sertifikasi CBIB dan CPIB

Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini tengah mendorong pelaku usaha budidaya/pembenihan ikan untuk menerapkan CBIB dan CPIB. Bagi para pembudidaya/pembenih yang serius melakukannya, disarankan untuk mengajukan sertifikasi CBIB dan CPIB pada unit usahanya. Untuk memperoleh sertifikat tersebut, tentu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan tersebut pastinya tidak jauh dari 4 aspek yang dijelaskan di atas.

Syarat sertifikasi CBIB, diantaranya:

-Lokasi bebas banjir dan cemaran;

-Air tersedia sepanjang tahun dan tidak tercemar;

-Menerapkan biosecurity;

-Pakan bersertifikat, atau melampirkan bahan/formula dan menyerahkan sampel apabila menggunakan pakan buatan sendiri;

-Benih memiliki Surat Keterangan Asal (SKA);

-Mempunyai Standard Operasional Prosedur (SOP) dari pengolahan kolam, pengadaan benih, sampai dengan panen;

Syarat sertifikasi CPIB, diantaranya:

-Surat keterangan dari Desa;

-Lokasi bebas banjir dan cemaran;

-Air tersedia sepanjang tahun dan tidak tercemar (dibuktikan dengan hasil analisis laboratorium);

-Fasilitas unit lengkap (ada gudang, tempat pengemasan dsb)

-Menerapkan biosecurity;

-Pakan bersertifikat, atau melampirkan bahan/formula dan menyerahkan sampel apabila menggunakan pakan buatan sendiri;

-Induk memiliki Surat Keterangan Asal (SKA);

-Mempunyai Standard Operasional Prosedur (SOP) dari pengolahan kolam, pengadaan induk, pemeriksaan kesehatan ikan, emeriksaan kualitas air, sampai dengan panen dan pengemasan;

-Mempunyai data rekaman selama proses produksi;

-Didampingi satu orang bersertifikat Manager Pengendali Mutu (MPM) Perbenihan

Semoga bermanfaat!
sumber: drkurnia.wordpress.com

Friday, October 3, 2014

Budidaya Ikan Tawar di Papua

MANOKWARI – Masyarakat Kampung Suwiam Distrik Ayamaru Utara Timur, Kabupaten Maybrat, belakangan ini mulai mengembangkan budidaya ikan air tawar mujair, lele, mas, nila dan gastor secara besar-besaran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Agustinus Na, salah seorang petani ikan di Kampung Suwiam, ketika ditemui di Manokwari, Rabu, mengatakan, pemerintah Provinsi Papua Barat mulai memberikan perhatian pada pengembangan budidaya ikan air tawar ini, karena cocok dengan potensi sumber daya alam setempat.

Dia mengatakan, dirinya sebelumnya bekerja sebagai seorang nelayan, namun mencoba keberuntungan menjadi petani tambak ikan air tawar, dimulai dengan lima tambak ikan mujair dan ikan lele yang menunjukkan hasil prospektif, lalu menambah jenis ikan.

Usaha awal yang ia rintis itu, diakuinya, menjadi alasan untuk mencoba mengajukan proposal ke pemerintah Provinsi Papua Barat.

“Usaha awal di lapangan kami gunakan sebagi pertimbangan ke pemerintah melalui proposal untuk memberikan modal usaha, sehingga akhir tahun 2012 lalu pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp1 miliar, modal itu saya gunakan untuk pembangunan kolam baru sebanyak 115 , membeli bibit ikan mas, ikan nila, ikan mujair ikan lele dan gastor sisanya untuk membangun penampungan air dan rumah tinggal di sekitar tambak,” kata Agustinus.

Ia mengatakan, pemerintah memperlihatkan keberpihakan terhadap masyarakat Papua Barat yang berusaha mengubah kesejahteraan keluarga lewat usaha ekonomi kreatif. “Jika tidak ada campur tangan pemerintah, maka masyarakat tidak merasakan sentuhan pembangunan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, banyak masyarakat Papua Barat yang menekuni berbagai macam usaha dengan modal minim, setelah mendapat sentuhan pemerintah dengan baik, bisa berprestasi dalam usahanya.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah karena dengan begini, usaha saya sekarang lancar dan melalui usaha ini juga kami telah menyerap beberapa pemuda sebagai tenaga kerja tetap dengan penghasilan cukup. Dalam waktu dekat kami koordinasikan dengan pihak terkait, baik di tingkat pemerintah provinsi dan kabupaten untuk turut hadir dalam rencana panen raya yang diagendakan awal tahun depan,” ujarnya. 

Sedangkan untuk benih ikan mujair, lele, mas, nila, gurami, patin, bawal dan lainnya bisa didapat di www.jualbenihikan.com


Sumber:  goodpapuakomin.com - antara

Saturday, September 13, 2014

Ingin Sungai Ditebar Benih Ikan oleh Pemerintah? Ini Caranya

Semua orang pasti ingin sungai di lingkungan sekitar terasa nyaman, bersih, dan lestari. Lebih memiliki nilai lebih lagi jika mampu memberikan nilai ekonomis bagi warga sekitar sungai. Bahan mampu memberikan nilai rekreasi sebagai sarana refreshing. Baru- baru ini Pemkab Banyumas melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Banyumas mempersilakan kepada tiap wilayah yang menginginkan lokasi perairan umum seperti sungai dan embungnya difasilitasi penaburan benih ikan. Hal itu menyusul program penebaran benih ikan yang digencarkan sebagai upaya melestarikan populasi ikan.

Kepala Disnakan Banyumas, Sugiyatno mengatakan, program penebaran tersebut tahun ini menyiapkan 300.000 benih ikan. Sementara sampai pekan pertama bulan September ini, benih ikan yang sudah ditebar mencapai 200.000an ekor. “Ada sekitar 200.000 benih yang sudah ditebar, jadi masih tersisa sekitar 100.000 benih,” kata Sugiyatno Sabtu (6/9).Terakhir, penebaran benih ikan dilakukan Disnakan bersama Muspika, pemerintah desa, kelompok tani hingga warga masyarakat di kawasan Curug Minem, Sungai Kembang, masuk Desa Petarangan Kecamatan Kemranjen, Banyumas, Jumat (5/9). Adapun bagi wilayah yang sungainya membutuhkan penebaran, Sugiyatno mempersilakan untuk mengajukan kepada Bupati Banyumas melalui pihaknya.Semoga segera menyusul daerah-daerah lain melakukan program serupa. Tidak ada salahnya Anda yang tertarik melakukan kegiatan tersebut mengajukan ke pemerintah ata dinas perikanan terkait. Semoga bermanfaat.

Sumber: Suara Merdeka

Saturday, August 23, 2014

KKP Siapkan Benih Ikan Tahan Berbagai Kondisi Cuaca

Budaya ikan memang sangat tergantung pada alam. Meskipun saat ini sudah ada beberapa upaa teknologi untuk menangani hal tersebut. Seperti halnya musim kemarau panjang (El Nino) dikhawatirkan memengaruhi tingkat reproduksi ikan dan biota perairan. Untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya efek buruk kemarau panjang, Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, menyiapkan benih-benih yang tahan terhadap berbagai kondisi cuaca.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (PB) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, mengatakan meskipun dampak El Nino belum terlihat nyata bagi perikanan di seluruh Indonesia, antisipasi tetap dilakukan. “Sebelumnya El Nino diperkirakan datang pada bulan Juni dan Juli ini, tapi sampai sekarang hujan masih ada,” kata dia di Jakarta, kemarin.Slamet menyatakan hal yang paling dikhawatirkan dari dampak musim kemarau panjang adalah terjadinya peningkatan suhu perairan, baik yang ada di darat maupun laut. Suhu yang fluktuatif itu akan membuat reproduksi ikan dan biota perairan terganggu.“Mengantisipasinya adalah kami perbanyak induk-induk atau benih-benih unggul yang tahan dari fluktuasi suhu, yang nantinya didistribusikan kepada masyarakat,” kata dia.Slamet mengatakan wilayah perairan yang sangat terpengaruh oleh El Nino adalah kawasan laut. Alasannya, suhu perairan area tersebut cenderung lebih sulit direkayasa seperti di perairan darat. “Kalau di darat, efek El Nino bisa diatasi dengan sistem resirkulasi (rekayasa suhu perairan). Kalau di laut memang lebih sulit daripada yang ada di perairan darat,” katanya.Untuk kawasan laut, pihaknya mengantisipasinya dengan penanaman benih yang tahan terhadap berbagai keadaan, salah satunya karena fluktuasi suhu.Ditjen PB telah menyiapkan alokasi dana 70 miliar rupiah untuk berbagai program budi daya perikanan pada 2014. Tidak ada alokasi khusus untuk menangani El Nino lantaran program-program yang ada banyak menyasar pada menghasilkan benih-benih berkualitas, unggul dan tahan dalam berbagai keadaan. Semoga Bermanfaat!



Sumber: koran-jakarta.com

Tuesday, July 29, 2014

Burger Pakan Ikan Bawal, Murah dan Mudah Diracik

Jual benih ikan bawal murah

Ketika kita mendengar burger Burger Pakan Ikan (BPI) untuk bawal merupakan pakan alternatif hasil fermentasi limbah makanan dan bahan pakan lain, murah dan mudah diracik. Harga pakan ikan yang selalu naik dan tak mengenal ‘turun harga’ kian menghimpit pembudidaya ikan, termasuk pada budidaya ikan bawal. Harga jual ikan air tawar ini di kolam Rp 10.000 sampaiRp 11.000 perkg, sementara harga pakan mencapai Rp 6.000/kg (protein 24%)  - Rp 7.000/kg (protein 29%).

Beranjak dari kondisi tersebut, Prof Dr Ir Ali Agus DEA, pengajar Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Fakultas Peternakan UGM (Universitas Gadjah Mada) yang juga kepala bagian Hewan Ternak KP4 UGM (Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian) mencoba meracik pakan ikan alternatif. Pakan ini telah beberapa waktu lalu dicobakannya pada ikan bawal dan lele. “Untuk pakan lele kurang bagus, badannya bisa panjang tapi tidak gemuk. Mungkin karena kadar proteinnya kurang tinggi untuk lele. Kemudian formula yang sama kami cobakan untuk bawal, ternyata berhasil,” ungkap peneliti yang sedang getol mengembangkan ‘burger’ pakan ternak dan ikan ini.Pembudidaya tak perlu repot membeli racikan ini kepada KP4 maupun Ali Agus. Pembudidaya bawal dapat membuat BPI secara mandiri karena proses dan peralatan yang dipakai sangat sederhana. “Cukup sediakan ember, sekop kecil untuk mencampur bahan, drum plastik dengan pengunci besi, bahan pakan, dan starter BPI. Jika ingin tahu secara detail, bisa mengikuti pelatihan di KP4 UGM,” tegasnya.

Memanfaatkan Limbah

Menurut Ali Agus, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan burger ikan ini memanfaatkan limbah industri dan pertanian seperti roti afkir, dedak padi, polard (dedak gandum), daun singkong/daun pepaya, dan tetes tebu (molases). Tepung ikan digunakan sebagai bahan pakan sumber protein. Premiks digunakan untuk memasok mineral dan vitamin.Namun setelah melalui fermentasi sederhana, limbah yang semula merupakan residu dari berbagai proses produksi itu layak dimanfaatkan sebagai pakan ikan alternatif atau setidaknya menjadi pakan selingan bagi ikan. Menurut Ali Agus, campuran bahan pakan yang aslinya hanya mengandung protein 20% setelah di fermentasi meningkat hingga di atas 25% bahkan mencapai 28%.Ali mengaku, produksi BPI ini tidak untuk diproduksi dalam skala besar/produksi massal karena rawan kendala. “Bahan baku berupa roti afkir di beberapa daerah sulit dicari. Saat kemarau daun pepaya juga sedikit langka,” tutur doktor alumni Universite de Rennes – Paris ini. Jalan keluarnya, roti afkir bisa diganti dengan tepung singkong/gaplek.


Proses Pembuatan

Secara ringkas Ali Agus menerangkan langkah-langkah untuk meramu BPI. Pertama, semua bahan berupa tepung dicampur di lantai dengan menyusunnya secara berlapis terlebih dahulu. Kedua, premiks dicampur dengan metode tersendiri supaya merata. Caranya, premiks diletakkan dalam ember kecil, kemudian dicampur sedikit demi sedikit dengan campuran tepung pertama. Setelah mencapai separuh ember, baru campuran ini di campurkan pada campuran pertama tadi.Ketiga, daun pepaya/singkong sebagai penyedia enzim alami di rajang halus. Roti afkir yang berupa roti basah harus disuwir-suwir(dipotong-potong)dengan tangan hingga kecil-kecil. Setelah itu campurkan dengan campuran tepung-tepungan di awal.Keempat, siapkan ‘saos burger pakan’ (starter probiotik fermentasi) sesuai label, encerkan bersama molases dengan air secukupnya. Setelah itu disiramkan pada campuran sambil diaduk hingga merata. “Volume air diperkirakan akan menghasilkan campuran dengan kadar air/moisture 35%. Ciri-cirinya kalau campuran digenggam akan meninggalkan bekas air pada telapak tangan namun tidak sampai basah,” urai Ali Agus.Campuran ini, kata Ali, difermentasi dalam drum plastik selama minimal 3 hari. “Kalau prosesnya bersih, 3 hari campuran sudah hancur dan berbau wangi. Kalau disimpan dalam kondisi tertutup rapat, BPI bisa bertahan hingga 3 bulan,” paparnya. BPI yang berbentuk tepung ini pun bisa dibuat menjadi pelet. “Sebaiknya sebelum di pelet BPI dicampur minyak ikan agar teksturnya bagus dan bisa mengapung,” saran Ali. Semoga bermanfaat!


Sumber: Trobos


Tuesday, July 8, 2014

Cara Budidaya Cacing Sutera (Tubifex sp) Sebagai Pakan Ikan

Bagi pembudidaya benih ikan, salah satu kendalanya adalah mencari pakan, terutama cacing sutera (Tubifex sp). Karena cacing sutera dicari di alam langsung (tidak dibudidayakan) maka ketersedian pakan benih ikan utamnya cacing sutera sangat tergantung faktor cuaca. Jika musim hujan siap-siap saja bagi pembudidaya tidak kebagian cacing sutera. Namun saat ini ada cara membudidayakan cacing sutera. Adapun caranya sebagai berikut:

A.PendahuluanTehnologi perikanan belakangan ini telah berhasil memijahkan beberapa jenis ikan baik ikan hias ataupun ikan konsumsi dengan pemijahan alami ataupun buatan, akan tetapi keberhasilan dalam pemijahan larva ini tidak diikuti oleh keberhasilan dalam pengembangan teknologi pemeliharaan larva, yang ditandai dengan tingkat mortalitas yang masih tinggi. Padahal usaha budidaya ikan dan udang semakin giat dilaksanakan baik secara intesif maupun secara ekstensif. Salah satu penyebab rendahnya SR (Survival Rates/Tingkat Kehidupan) larva adalah masih rendahnya penguasaan teknologi penyediaan pakan, khususnya pakan alami.Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu alternatif pemecahannya adalah mencari pakan alami yang lebih murah untuk menekan biaya akan tetapi nilai nutrisinya lebih lengkap. Penggunaan  pakan alami untuk budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan selain harganya yang lebih murah juga tidak mudah busuk sehingga dapat mengurangi pencemaran kualitas air, lebih mendekati pada kebutuhan biologis ikan karena merupakan jasad hidup dan mempunyai kandungan gizi yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan pakan buatan.Salah satu diantara banyak pakan alami adalah cacing sutra atau juga dikenal dengan cacing rambut. Cacing sutra ini menjadi favorit bagi semua benih ikan yang sudah bisa memakan pakan alami. Cacing sutra ini biasanya diberikan dalam keadaan hidup atau masih segar ke dalam air karena lebih sukai ikan. Cacing sutra (Tubifex sp) cukup mudah untuk dijumpai, dan jika dibudidayakan tidaklah sulit untuk melakukannya. Kemampuanya beradaptasi dengan kualitas air yang jelek membuatnya bisa dipelihara di perairan mengalir mana saja, bahkan pada perairan tercemar sekalipun. Selain itu juga bisa bertahan lama hidup di air dan nilai gizi yang ada pada cacing ini cukup baik untuk pertumbuhan ikan. Berbagai keunggulan ini membuat Cacing sutra (Tubifex sp) menjadi primadona pakan alami bagi dunia pembenihan. Namun ketersediaan pakan alami berupa cacing sutra masih tergantung pada kondisi alam sehingga dalam waktu – waktu tertentu sulit diperolehPengembangan pakan alami cacing sutra masih tergolong tradisional. Sebagian besar pemenuhan kebutuhan akan cacing sutra didapat dari alam. Hal tersebut dikarenakan teknologi budidaya dari cacing sutra ini belum berkembang dengan baik, sehingga masih mengandalkan tangkapan dari alam. Proses pengambilan cacing sutra dari alam membutuhkan penanganan khusus dan ketelatenan agar didapatkan cacing yang tahan dan dapat hidup di luar habitatnya hingga dapat didistribusaikan kepada konsumen.
Kandungan gizi cacing sutra cukup baik bagi pakan ikan yaitu berupa protein         (57 %), lemak (13,3 %), serat kasar (2,04 %), kadar abu (3,6 %) dan air (87,7 %). Kandungan nutrisi cacing sutra tidak  kalah dibanding pakan ikan alami lainya seperti Infusoria, Chalama domunas, Kotioero Monas .sp, Artemia .sp(Khairuman et al., 2008) 


B.Budidaya Dengan Tray/Nampan Plastik


Budidaya cacing sutra dengan Tray/Nampan terhitung baru dilakukan. Sistem budidaya dengan menggunakan nampan ini baru ditemukan beberapa waktu yang lalu oleh pembudidaya cacing sutra, Bapak Agus Tiyoso. Pembudidaya tubifex sp  yang beralamat di Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung ini menemukan ide budidaya dengan sistem tray ketika ada temannya bertamu dan lagi membicarakan cara budidaya cacing rambut. Ketika istrinya mau menyuguhkan minuman yang dibawa dengan nampan,  saat itulah terbersit ide untuk menggunakan nampan dalam berbudidaya “Si Emas Merah Berambut” ini.
Budidaya cacing sutra dengan menggunakan media nampan/tray ini bisa menggunakan System SCRS( Semi Closed Resirculating System). Sistem SCRS ini sebetulnya bukan hal baru pada sistem pembesaran pada budidaya udang. Sistem ini pada dasarnya mengolah dan menggunakan kembali air yang sudah dipakai pada proses budidaya udang. Pengisian air  baru dari luar sistem hanya dilakukan untuk mengganti air yang susut/berkurang akibat kebocoran ataupun evaporasi.Pada sistem budidaya cacing sutra dengan menggunakan nampan/tray ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu :
1.  Lebih hemat dalam penggunaan air. Air yang sudah melewati susunan media pada nampan/tray ditampung dengan wadah yang ada dibagian bawah rak untuk kemudian dialirkan kembali ke media yang paling atas dengan menggunakan pompa air/dab.2.  Menghemat Penggunaan Probiotik dan Obat-obatan lainnya. Probiotik dan obat-obatan yang dicampur pada media tumbuh/substrat budidaya cacing sutra yang ikut terbawa arus air tidak terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung pada wadah bagian bawah wadah rak bersama air bisa digunakan kembali dengan cara dialirkan ke media yang paling atas dengan bantuan pompa air/dab.3.  Budidaya cacing sutra dengan sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas, karena medianya disusun ke atas secar vertikal yang cenderung bisa juga dilahan yang sempit seperti disela-sela sekatan rumah ataupun tempat lainnya.

Agar kapasitas produksinya bisa maksimal ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya tubifex sp  dengan sistem tray/nampan ini, yaitu : 
  • Nampan diusahakan agar yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada dimedia tidak mesti mengulang dari awal budidaya yang biasanya membutuhkan waktu 50 – 57 hari mulai dari awal sampai dengan panen.
  • Kayu balok dan reng bambu yang dipakai juga diusahakan agar kwalitasnya juga bagus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti patah/roboh akibat kayu/reng bambunya patah atau gampang rapuh.
  • Jumlah nampan/tray diatur sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan kekuatan rangka yang ada
  • Semakin banyak rak/susunan kerangka akan semakin banyak produksi cacing sutra yang akan dihasilkan
Produksi cacing sutra dengan media nampan, menurut informasi Bapak Agus Tiyoso Penemu Budidaya cacing sutra dengan media nampan ini, bisa mencapai 1 gelas/nampan dengan siklus panen sesudah masa panen perdana bisa 5 – 10 sehari sekali. Dengan asumsi 1 gelas = 250 ml, maka apabila kita bisa memanen 10 nampan/hari maka produksinya  akan  mencapai 2,5 liter/hari. Terkadang panennya bisa mencapai 15 – 20 nampan/hari. Jika dikalikan dengan Rp. 15.000,00 rupiah maka penghasilan dalam sehari bisa mencapai Rp. 37.500,00. Tentu saja penghasilannya bisa lebih dari itu apabila jumlah cacing sutra dalam nampan yang dipanen lebih dari 10 nampan. Jadi semakin banyak nampan yang dibuat dengan semakin banyak rak-rak budidaya cacing sutra yang dibuat maka kapasitas produksi yang ingin dicapai pun bisa semakin meningkat.

C.Analisa Usaha

Sebuah analisis usaha sangatlah penting untuk mengetahui kelayakan suatu usaha apakah  bisa mendapatkan keuntungan yang layak atau tidak. Langkah pertama untuk menganalisa suatu usaha adalah menentukan biaya produksi kemudian biaya produksi merupakan modal yang harus dikeluarkan untuk melakukan usaha. Biaya produksi dapat dibedakan antara biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang penggunaanya tidak habis dalam satu musim produksi, sedangkan biaya variable merupakan biaya yang habis dalam satu musim produksi. Analisis finansial sangat dibutuhkan dalam usaha apapun untuk mengetahui tingkat efisiensi, serta tingkat keberhasilan usaha dan layak tidaknya usaha tersebut untuk dijalankan. 
Usaha budidaya cacing sutra dengan nampan ini sangat menjanjikan. Bayangkan hanya dengan 100 buah dan biaya produksi Rp 3.508.250,-  setahun bisa menghasilkan pendapatan dari penjualan cacing sutra setahun yang mencapai Rp 11.625.000,-.Berarti bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 8.116.750,-/ 1 rangkaian rak. Penghasilan dalam 1 bulan hanya dengan 1 rangkaian rak nampan yang berisi 100 nampan besar adalah Rp 676.396,- Apabila kita mempunyai 10 rangkaian rak nampan besar maka keuntungan pertahun yang bisa didapat adalah sekitar Rp 81.167.500,-, dan penghasilan/bulannya bisa mencapai Rp 6.763.960,- sebuah penghasilan yang tinggi untuk ukuran sekarang. Apalagi dengan berbudidaya cacing sutra dengan nampan ini tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas dan bisa juga di pekarangan atau sekatan rumah kita.
Berdasarkan nilai pendapatan dan biaya produksi, didapatkan nilai rationya 3,31. R/C rasio tersebut menunjukkan bahwa setiap Rp.1,- biaya yang dikeluarkan untuk usaha budidaya cacing sutra dengan media kolam semen ini akan memperoleh penghasilan Rp. 3,31,-.




Semoga Bermanfaat!


Sumber: jogjabenih.com
              lelesaya.blogspot.com