antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA,SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

antok .Farm MELAYANI PENGIRIMAN ANTAR PULAU. HARGA BISA DINEGOSIASIKAN, BERGARANSI, DAN BERPENGALAMAN BERTAHUM-TAHUN MENGIRIM JARAK JAUH SEPERTI; MEDAN, RIAU, PALEMBANG, BALIKPAPAN, SAMARINDA, PONTIANAK, JAKARTA, SULAWESI, PAPUA, TAIWAN DLL.

antok Farm, Jual Benih Ikan

Menyediakan Bibit Belut Dengan Kualitas

antok Farm, Jual Benih Ikan

Menyediakan Bibit nila dengan kondisi baik

Saturday, August 23, 2014

KKP Siapkan Benih Ikan Tahan Berbagai Kondisi Cuaca

Budaya ikan memang sangat tergantung pada alam. Meskipun saat ini sudah ada beberapa upaa teknologi untuk menangani hal tersebut. Seperti halnya musim kemarau panjang (El Nino) dikhawatirkan memengaruhi tingkat reproduksi ikan dan biota perairan. Untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya efek buruk kemarau panjang, Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, menyiapkan benih-benih yang tahan terhadap berbagai kondisi cuaca.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (PB) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, mengatakan meskipun dampak El Nino belum terlihat nyata bagi perikanan di seluruh Indonesia, antisipasi tetap dilakukan. “Sebelumnya El Nino diperkirakan datang pada bulan Juni dan Juli ini, tapi sampai sekarang hujan masih ada,” kata dia di Jakarta, kemarin.Slamet menyatakan hal yang paling dikhawatirkan dari dampak musim kemarau panjang adalah terjadinya peningkatan suhu perairan, baik yang ada di darat maupun laut. Suhu yang fluktuatif itu akan membuat reproduksi ikan dan biota perairan terganggu.“Mengantisipasinya adalah kami perbanyak induk-induk atau benih-benih unggul yang tahan dari fluktuasi suhu, yang nantinya didistribusikan kepada masyarakat,” kata dia.Slamet mengatakan wilayah perairan yang sangat terpengaruh oleh El Nino adalah kawasan laut. Alasannya, suhu perairan area tersebut cenderung lebih sulit direkayasa seperti di perairan darat. “Kalau di darat, efek El Nino bisa diatasi dengan sistem resirkulasi (rekayasa suhu perairan). Kalau di laut memang lebih sulit daripada yang ada di perairan darat,” katanya.Untuk kawasan laut, pihaknya mengantisipasinya dengan penanaman benih yang tahan terhadap berbagai keadaan, salah satunya karena fluktuasi suhu.Ditjen PB telah menyiapkan alokasi dana 70 miliar rupiah untuk berbagai program budi daya perikanan pada 2014. Tidak ada alokasi khusus untuk menangani El Nino lantaran program-program yang ada banyak menyasar pada menghasilkan benih-benih berkualitas, unggul dan tahan dalam berbagai keadaan. Semoga Bermanfaat!



Sumber: koran-jakarta.com

Tuesday, July 29, 2014

Burger Pakan Ikan Bawal, Murah dan Mudah Diracik

Jual benih ikan bawal murah

Ketika kita mendengar burger Burger Pakan Ikan (BPI) untuk bawal merupakan pakan alternatif hasil fermentasi limbah makanan dan bahan pakan lain, murah dan mudah diracik. Harga pakan ikan yang selalu naik dan tak mengenal ‘turun harga’ kian menghimpit pembudidaya ikan, termasuk pada budidaya ikan bawal. Harga jual ikan air tawar ini di kolam Rp 10.000 sampaiRp 11.000 perkg, sementara harga pakan mencapai Rp 6.000/kg (protein 24%)  - Rp 7.000/kg (protein 29%).

Beranjak dari kondisi tersebut, Prof Dr Ir Ali Agus DEA, pengajar Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Fakultas Peternakan UGM (Universitas Gadjah Mada) yang juga kepala bagian Hewan Ternak KP4 UGM (Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian) mencoba meracik pakan ikan alternatif. Pakan ini telah beberapa waktu lalu dicobakannya pada ikan bawal dan lele. “Untuk pakan lele kurang bagus, badannya bisa panjang tapi tidak gemuk. Mungkin karena kadar proteinnya kurang tinggi untuk lele. Kemudian formula yang sama kami cobakan untuk bawal, ternyata berhasil,” ungkap peneliti yang sedang getol mengembangkan ‘burger’ pakan ternak dan ikan ini.Pembudidaya tak perlu repot membeli racikan ini kepada KP4 maupun Ali Agus. Pembudidaya bawal dapat membuat BPI secara mandiri karena proses dan peralatan yang dipakai sangat sederhana. “Cukup sediakan ember, sekop kecil untuk mencampur bahan, drum plastik dengan pengunci besi, bahan pakan, dan starter BPI. Jika ingin tahu secara detail, bisa mengikuti pelatihan di KP4 UGM,” tegasnya.

Memanfaatkan Limbah

Menurut Ali Agus, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan burger ikan ini memanfaatkan limbah industri dan pertanian seperti roti afkir, dedak padi, polard (dedak gandum), daun singkong/daun pepaya, dan tetes tebu (molases). Tepung ikan digunakan sebagai bahan pakan sumber protein. Premiks digunakan untuk memasok mineral dan vitamin.Namun setelah melalui fermentasi sederhana, limbah yang semula merupakan residu dari berbagai proses produksi itu layak dimanfaatkan sebagai pakan ikan alternatif atau setidaknya menjadi pakan selingan bagi ikan. Menurut Ali Agus, campuran bahan pakan yang aslinya hanya mengandung protein 20% setelah di fermentasi meningkat hingga di atas 25% bahkan mencapai 28%.Ali mengaku, produksi BPI ini tidak untuk diproduksi dalam skala besar/produksi massal karena rawan kendala. “Bahan baku berupa roti afkir di beberapa daerah sulit dicari. Saat kemarau daun pepaya juga sedikit langka,” tutur doktor alumni Universite de Rennes – Paris ini. Jalan keluarnya, roti afkir bisa diganti dengan tepung singkong/gaplek.


Proses Pembuatan

Secara ringkas Ali Agus menerangkan langkah-langkah untuk meramu BPI. Pertama, semua bahan berupa tepung dicampur di lantai dengan menyusunnya secara berlapis terlebih dahulu. Kedua, premiks dicampur dengan metode tersendiri supaya merata. Caranya, premiks diletakkan dalam ember kecil, kemudian dicampur sedikit demi sedikit dengan campuran tepung pertama. Setelah mencapai separuh ember, baru campuran ini di campurkan pada campuran pertama tadi.Ketiga, daun pepaya/singkong sebagai penyedia enzim alami di rajang halus. Roti afkir yang berupa roti basah harus disuwir-suwir(dipotong-potong)dengan tangan hingga kecil-kecil. Setelah itu campurkan dengan campuran tepung-tepungan di awal.Keempat, siapkan ‘saos burger pakan’ (starter probiotik fermentasi) sesuai label, encerkan bersama molases dengan air secukupnya. Setelah itu disiramkan pada campuran sambil diaduk hingga merata. “Volume air diperkirakan akan menghasilkan campuran dengan kadar air/moisture 35%. Ciri-cirinya kalau campuran digenggam akan meninggalkan bekas air pada telapak tangan namun tidak sampai basah,” urai Ali Agus.Campuran ini, kata Ali, difermentasi dalam drum plastik selama minimal 3 hari. “Kalau prosesnya bersih, 3 hari campuran sudah hancur dan berbau wangi. Kalau disimpan dalam kondisi tertutup rapat, BPI bisa bertahan hingga 3 bulan,” paparnya. BPI yang berbentuk tepung ini pun bisa dibuat menjadi pelet. “Sebaiknya sebelum di pelet BPI dicampur minyak ikan agar teksturnya bagus dan bisa mengapung,” saran Ali. Semoga bermanfaat!


Sumber: Trobos


Friday, July 18, 2014

Produktivitas Indukan Ikan Gurame / Gurami Bisa Ditentukan dari Suara

jual benih ikan gurami
Satu lagi inovasi dari beberapa putra bangsa dalam mengembangkan inovasi perikanan. Sebuah inovasi baru di dunia budidaya ikan telah ditemukan, hal ini berkaitan dengan produktivitas ikan gurame dapat ditentukan lewat suara yang dihasilkan. Penemuan ini ditemukan oleh Tim mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Tim penelitian yang menemukan cara mengukur produktivitas ikan gurame berdasarkan suara ini adalah I Gede Mahendra Wijaya, Dhaniyanto Mayrendra Rasyid, dan I Made Teguh Wirayudha, dengan dibimbing oleh dosen pembimbing Dr Ir Sri Pujiyati, MSi itu dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa.
Metode yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan metode bioakustik, yang biasa digunakan untuk melihat pola dan karakter suara mamalia laut secara umum.
Dilansir dari antaranews, I Gede Mahendra menjelaskan mengaitkan bioakustik dengan produktivitas pada ikan gurame. Menurut dia, hal ini baru yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Penelitian ini didasarkan pemikiran bahwa perlunya satu metode yang mampu dikembangkan untuk mengetahui mutu indukan ikan gurame yang efektif dan efisien tanpa menyentuh ikan itu sendiri.
Sebenarnya penelitian ini cukup sederhana mereka mendengarkan suara yang dihasilkan oleh ikan dalam beberapa tahap. Kemudian suara yang sudah terekam dianalisa untuk mendapatkan karakteristiknya (frekuensi dan intensitas suara).
Dengan demikian mereka dapat membedakan Karakteristik suara dari masing-masing indukan ikan kemudian dibandingkan dengan jumlah telur yang dihasilkannya. Setelah di amati, ikan yang memiliki produktivitas tinggi memiliki rentang frekuensi dan intensitas yang lebih sempit yaitu 2.952 Hz dan rentang intensitas 19 dB sedangkan ikan yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dengan rentang frekuensi maupun intensitas yang lebih lebar yaitu 5.062 hz dan rentang intensitas 30 dB.
Saat ini Teknologi ini tengah dikembangkan, diharapkan mampu memberi solusi bagi pembudidaya ikan gurame agar dapat dengan cepat dan mudah melakukan penyortiran indukan gurame yang unggul tanpa harus menyakiti induk ikan. Dan tentunya dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan gurame. Semoga bermanfaat!

Sumber:  usahabudidaya.com


Tuesday, July 8, 2014

Cara Budidaya Cacing Sutera (Tubifex sp) Sebagai Pakan Ikan

Bagi pembudidaya benih ikan, salah satu kendalanya adalah mencari pakan, terutama cacing sutera (Tubifex sp). Karena cacing sutera dicari di alam langsung (tidak dibudidayakan) maka ketersedian pakan benih ikan utamnya cacing sutera sangat tergantung faktor cuaca. Jika musim hujan siap-siap saja bagi pembudidaya tidak kebagian cacing sutera. Namun saat ini ada cara membudidayakan cacing sutera. Adapun caranya sebagai berikut:

A.PendahuluanTehnologi perikanan belakangan ini telah berhasil memijahkan beberapa jenis ikan baik ikan hias ataupun ikan konsumsi dengan pemijahan alami ataupun buatan, akan tetapi keberhasilan dalam pemijahan larva ini tidak diikuti oleh keberhasilan dalam pengembangan teknologi pemeliharaan larva, yang ditandai dengan tingkat mortalitas yang masih tinggi. Padahal usaha budidaya ikan dan udang semakin giat dilaksanakan baik secara intesif maupun secara ekstensif. Salah satu penyebab rendahnya SR (Survival Rates/Tingkat Kehidupan) larva adalah masih rendahnya penguasaan teknologi penyediaan pakan, khususnya pakan alami.Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu alternatif pemecahannya adalah mencari pakan alami yang lebih murah untuk menekan biaya akan tetapi nilai nutrisinya lebih lengkap. Penggunaan  pakan alami untuk budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan selain harganya yang lebih murah juga tidak mudah busuk sehingga dapat mengurangi pencemaran kualitas air, lebih mendekati pada kebutuhan biologis ikan karena merupakan jasad hidup dan mempunyai kandungan gizi yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan pakan buatan.Salah satu diantara banyak pakan alami adalah cacing sutra atau juga dikenal dengan cacing rambut. Cacing sutra ini menjadi favorit bagi semua benih ikan yang sudah bisa memakan pakan alami. Cacing sutra ini biasanya diberikan dalam keadaan hidup atau masih segar ke dalam air karena lebih sukai ikan. Cacing sutra (Tubifex sp) cukup mudah untuk dijumpai, dan jika dibudidayakan tidaklah sulit untuk melakukannya. Kemampuanya beradaptasi dengan kualitas air yang jelek membuatnya bisa dipelihara di perairan mengalir mana saja, bahkan pada perairan tercemar sekalipun. Selain itu juga bisa bertahan lama hidup di air dan nilai gizi yang ada pada cacing ini cukup baik untuk pertumbuhan ikan. Berbagai keunggulan ini membuat Cacing sutra (Tubifex sp) menjadi primadona pakan alami bagi dunia pembenihan. Namun ketersediaan pakan alami berupa cacing sutra masih tergantung pada kondisi alam sehingga dalam waktu – waktu tertentu sulit diperolehPengembangan pakan alami cacing sutra masih tergolong tradisional. Sebagian besar pemenuhan kebutuhan akan cacing sutra didapat dari alam. Hal tersebut dikarenakan teknologi budidaya dari cacing sutra ini belum berkembang dengan baik, sehingga masih mengandalkan tangkapan dari alam. Proses pengambilan cacing sutra dari alam membutuhkan penanganan khusus dan ketelatenan agar didapatkan cacing yang tahan dan dapat hidup di luar habitatnya hingga dapat didistribusaikan kepada konsumen.
Kandungan gizi cacing sutra cukup baik bagi pakan ikan yaitu berupa protein         (57 %), lemak (13,3 %), serat kasar (2,04 %), kadar abu (3,6 %) dan air (87,7 %). Kandungan nutrisi cacing sutra tidak  kalah dibanding pakan ikan alami lainya seperti Infusoria, Chalama domunas, Kotioero Monas .sp, Artemia .sp(Khairuman et al., 2008) 


B.Budidaya Dengan Tray/Nampan Plastik


Budidaya cacing sutra dengan Tray/Nampan terhitung baru dilakukan. Sistem budidaya dengan menggunakan nampan ini baru ditemukan beberapa waktu yang lalu oleh pembudidaya cacing sutra, Bapak Agus Tiyoso. Pembudidaya tubifex sp  yang beralamat di Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung ini menemukan ide budidaya dengan sistem tray ketika ada temannya bertamu dan lagi membicarakan cara budidaya cacing rambut. Ketika istrinya mau menyuguhkan minuman yang dibawa dengan nampan,  saat itulah terbersit ide untuk menggunakan nampan dalam berbudidaya “Si Emas Merah Berambut” ini.
Budidaya cacing sutra dengan menggunakan media nampan/tray ini bisa menggunakan System SCRS( Semi Closed Resirculating System). Sistem SCRS ini sebetulnya bukan hal baru pada sistem pembesaran pada budidaya udang. Sistem ini pada dasarnya mengolah dan menggunakan kembali air yang sudah dipakai pada proses budidaya udang. Pengisian air  baru dari luar sistem hanya dilakukan untuk mengganti air yang susut/berkurang akibat kebocoran ataupun evaporasi.Pada sistem budidaya cacing sutra dengan menggunakan nampan/tray ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu :
1.  Lebih hemat dalam penggunaan air. Air yang sudah melewati susunan media pada nampan/tray ditampung dengan wadah yang ada dibagian bawah rak untuk kemudian dialirkan kembali ke media yang paling atas dengan menggunakan pompa air/dab.2.  Menghemat Penggunaan Probiotik dan Obat-obatan lainnya. Probiotik dan obat-obatan yang dicampur pada media tumbuh/substrat budidaya cacing sutra yang ikut terbawa arus air tidak terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung pada wadah bagian bawah wadah rak bersama air bisa digunakan kembali dengan cara dialirkan ke media yang paling atas dengan bantuan pompa air/dab.3.  Budidaya cacing sutra dengan sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas, karena medianya disusun ke atas secar vertikal yang cenderung bisa juga dilahan yang sempit seperti disela-sela sekatan rumah ataupun tempat lainnya.

Agar kapasitas produksinya bisa maksimal ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya tubifex sp  dengan sistem tray/nampan ini, yaitu : 
  • Nampan diusahakan agar yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada dimedia tidak mesti mengulang dari awal budidaya yang biasanya membutuhkan waktu 50 – 57 hari mulai dari awal sampai dengan panen.
  • Kayu balok dan reng bambu yang dipakai juga diusahakan agar kwalitasnya juga bagus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti patah/roboh akibat kayu/reng bambunya patah atau gampang rapuh.
  • Jumlah nampan/tray diatur sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan kekuatan rangka yang ada
  • Semakin banyak rak/susunan kerangka akan semakin banyak produksi cacing sutra yang akan dihasilkan
Produksi cacing sutra dengan media nampan, menurut informasi Bapak Agus Tiyoso Penemu Budidaya cacing sutra dengan media nampan ini, bisa mencapai 1 gelas/nampan dengan siklus panen sesudah masa panen perdana bisa 5 – 10 sehari sekali. Dengan asumsi 1 gelas = 250 ml, maka apabila kita bisa memanen 10 nampan/hari maka produksinya  akan  mencapai 2,5 liter/hari. Terkadang panennya bisa mencapai 15 – 20 nampan/hari. Jika dikalikan dengan Rp. 15.000,00 rupiah maka penghasilan dalam sehari bisa mencapai Rp. 37.500,00. Tentu saja penghasilannya bisa lebih dari itu apabila jumlah cacing sutra dalam nampan yang dipanen lebih dari 10 nampan. Jadi semakin banyak nampan yang dibuat dengan semakin banyak rak-rak budidaya cacing sutra yang dibuat maka kapasitas produksi yang ingin dicapai pun bisa semakin meningkat.

C.Analisa Usaha

Sebuah analisis usaha sangatlah penting untuk mengetahui kelayakan suatu usaha apakah  bisa mendapatkan keuntungan yang layak atau tidak. Langkah pertama untuk menganalisa suatu usaha adalah menentukan biaya produksi kemudian biaya produksi merupakan modal yang harus dikeluarkan untuk melakukan usaha. Biaya produksi dapat dibedakan antara biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang penggunaanya tidak habis dalam satu musim produksi, sedangkan biaya variable merupakan biaya yang habis dalam satu musim produksi. Analisis finansial sangat dibutuhkan dalam usaha apapun untuk mengetahui tingkat efisiensi, serta tingkat keberhasilan usaha dan layak tidaknya usaha tersebut untuk dijalankan. 
Usaha budidaya cacing sutra dengan nampan ini sangat menjanjikan. Bayangkan hanya dengan 100 buah dan biaya produksi Rp 3.508.250,-  setahun bisa menghasilkan pendapatan dari penjualan cacing sutra setahun yang mencapai Rp 11.625.000,-.Berarti bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 8.116.750,-/ 1 rangkaian rak. Penghasilan dalam 1 bulan hanya dengan 1 rangkaian rak nampan yang berisi 100 nampan besar adalah Rp 676.396,- Apabila kita mempunyai 10 rangkaian rak nampan besar maka keuntungan pertahun yang bisa didapat adalah sekitar Rp 81.167.500,-, dan penghasilan/bulannya bisa mencapai Rp 6.763.960,- sebuah penghasilan yang tinggi untuk ukuran sekarang. Apalagi dengan berbudidaya cacing sutra dengan nampan ini tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas dan bisa juga di pekarangan atau sekatan rumah kita.
Berdasarkan nilai pendapatan dan biaya produksi, didapatkan nilai rationya 3,31. R/C rasio tersebut menunjukkan bahwa setiap Rp.1,- biaya yang dikeluarkan untuk usaha budidaya cacing sutra dengan media kolam semen ini akan memperoleh penghasilan Rp. 3,31,-.




Semoga Bermanfaat!


Sumber: jogjabenih.com
              lelesaya.blogspot.com